Sejak Pagi

Agustus 26, 2009

forex

“pagi” kata pagi membayangkan suasana santai bangun tidur udara segar matahari yang redup ditemani secangkir kopi dan alunan musik wah tentunya hidup ini terasa nikmat sekali. Hal itu sebenarnya masih menjadi mimpi-mimpi saja, bagaimana tidak untuk bangun pagi saja sangat sulit, ha ha ha….bukan karena apa si…ya karena aktivitas dihabisakan malam hari sampai pagi begadang dan begadang lagi. wah…kapan aku bisa jumpai pagi sungguh nikmatnya jika aku bisa menjumpai pagi selepas bangun tidur dengan pikiran yang cerah hee,,ee..bisa dihitung dengan jari kapan bisa bangun pagi. dalam sebulan bisa hampir ga pernah bangun pagi..ha ha…ampun nyai….ampun..

Tapi malam itu memang indah malam itu damai, keindahan dan kedamaian adalah kekasihku ha ha….tp aku juga ingin pagi…hhuuuhh….kapan aku bisa temukan kamu pagi, pagi yang damai dan indah…


Dindy Pintunya Dibuka | Buat Lencana Anda

Berartikah Sebuah Nama

Agustus 26, 2009

Dibilangin susah semunya sendiri ha ha…kata itu mengartikan ndendeng kata orang jawa, ya menjadi pangilan masa kecil aku “Ndendeng” atau nakal suka mandi di kali main di sawah wah udah dibilangin tetep aja melakukan habisa asik sih…sama temen-temen di desa ha ha….desa itu namanya Sangen, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. desa yang terletak di selatan kaki Gunung Subing ini tempat dimana aku menghabisakan masa kecilku dulu. Desa dengan alam yang masih sangat indah ini masih terjaga hijaunya, Dari pangilan ndendeng oleh keluarga eh,,,temen, tetanga, saudara semia ikut manggil itu wah wah…tanpa disadari lama kelamaan pangilan itu menjadi Ndi ndik, entah kenapa pangilan itu bisa bergesar aku juga tidak tahu, sampai saat ini di usaiaku 24 tahun kemaren panggilan itu masih melekat di benak mereka. ha haa….

Kakek seorang pensiunan yang menghabisakan masa pensiunanya di Sangen sama mbah Uti he he…( nenek perempuan orang jawa menyebutnya kalau kakek laki-laki menyebutnya mbah Kakung ) Uti yang berarti perempuan dan Kakung yang berarti laki-laki.Bapak sebelum meninggal pada usia 29 tahun waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2 bapak berprofesi menjadi supir mini bus jurusan Purworejo Magelang, Mini bus yang dibelikan Mbah Kakung untuk bapak ” katanya si hasil dari jual sawah ah aha,,,,,hi…” ya bapak menjadi seorang supir untuk menghidupi adik-adik bapak dan keluarga. sebelum ahirnya bapak pidah ke purwokerto untuk bekerja di instansi pemerintahan menjadi supir pribadi/supir kantor gayanya si Pegawai Negri Sipil ha ha…padahal supir,,,he he…walaupun bekerja di instansi pemerintahan teetp aja temen bapak diluar buanyak dengan hobinya otak-atik kendaraan dan paling seneng sama aduan ayam ha ha….wah wah..sekitar tahun 1989 bapak memutuskan aku dan ibu untuk ikut ke Purwokerto, kami pun pindah ke Purwokerto. cerita baru dimulai dari kota itu. oya ngomong-ngomong masalah pangilan tadi “ndindik” lucu juga sampai di purwokero, logat ngapak Banyumas yang susah melafalkan logat ndindik tersebut ahirnya pangilan aku bergeser lagi menjadi Dindy ha ha….ga tau kok bisa …ya udah lah enaknya temen-temen saja dalam hatiku he he..pangilan itu pun melekat juga di kalangan temen-temen aku di Purwoketo sampai saat ini. ” aneh” tapi namanya asik juga si,,,dindy hah a haa,,,,biarkan saja alami terbentuk nama itu. usiaku 4 tahun pindah ke Purwokerto dan pada tahun berikutnya ibu memasikanku ke Tk DIponegoro ( nama pahlawan daerah ) kok ga satria baja hitam saja ya…weks gubrak…hehe…coba pake nama ittu sekolahnya asik kayaknya ha ha…sekolah-sekolah ayo sekolah.

Antara Purwoketo dan Magelang 5 jam perjalanan naik bus. lumayan pantat panas. jarak yang sering di tempuh waktu kecilku dulu, Pada waktu itu bus yang sering kami naiki adalah bus Santoso busa Purwokerto-Semarang PP he he…karena pada jamanya ha ha hanya ada itu he he,,,,sampai sekarang si,,busnya masih sama, dengan berdesak desakan ibu menggendong aku naik bus dengan bawaan seabrek-abrek ceiranya oleh-oleh dari kota. he…denga desak-desakan ibu tetep mengedong aku biasa kalau udah dapat tempat duduk he heh dipangku biar ga bayar anak kecil, tp kadang sang kondekur tetep meminta setengah ongkos dari orang dewasa..he he huh..asap rokok bau minyak oleh suara penjaja makanan, pengamen, wow…atmosfer yang sangat melekat dalam bus. bisa dibayangkan itu, tapi tetep asik aja….he he,,adanya cuma itu si…he hee….oya tidak lupa ibu selalu membelikanku mmm gapapa lah promosi dikit teh Kotak sama Taro. biar ga nagis pa ya…hi….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.